Sabtu, 05 Januari 2013

Aneh, Bocah ini Pelihara Cacing 3 Kg Dalam Perutnya

Kodokoala
Blog Kodokoala. Berita, unik, selebritis, olahraga, gaya hidup, kesehatan, kejadian, peristiwa dan lainnya. // via fulltextrssfeed.com
Aneh, Bocah ini Pelihara Cacing 3 Kg Dalam Perutnya
Jan 5th 2013, 11:16


Uedan banget bocah ini menyimpan 3 kg cacing dalam perutnya, aneh dan juga ajaib, namun ini adalah suatu penyakit. Bocah ini seakan memelihara 3 kg cacing dalam perutnya. Di salah satu RS di Bandung Datang seorang bocah berusia sekitar 10 tahun ke UGD RS tersebut dengan keluhan tidak bisa buang air besar alias BAB selama 4 hari. Perut penderita udah kembung dan terlihat sangat besar. Diagnosa sementara oleh dokter RS tersebut adalah Ileus Obstruktif (Sumbatan di Usus Halus). Dengan persetujuan keluarga, langsung dipersiapkan operasi karena emang satu-satu nya jalan adalah dengan pembedahan. Setelah pembiusan berjalan, dibukalah perut anak itu dan ternyata, ditemukan cacing seberat 3 kg dalam perut anak tersebut dengan estimasi sekitar 500-1000 cacing.

Cacing


Setelah operasi selesai, keluarga pasien dipanggil. Begitu tau tentang kondisi anaknya, respon sang ayah ternyata tidak disangka-sangka "Oh itu mah udah biasa Dok, anak saya udah beberapa kali dikasih obat cacing, kalo berak gak tuh keluar t*i-nya, keluarnya cacing semua. Udah sering itu Dok"

Di Indonesia ternyata kasus semacam ini masih sering terjadi. Bukti bahwa kepedulian masyarakat terhadap kebersihan dan kesehatan serta perekonomian sangatlah rendah. Setelah sakit baru mereka sadar jika kesehatan itu sangatlah mahal harganya.

Operasi Pengeluaran Cacing


Sekilas tentang penyakit Cacingan atau Askariasis. Askariasis adalah penyakit parasit yang disebabkan oleh cacing gelang Ascaris lumbricoides. Askariasis adalah penyakit kedua terbesar yang disebabkan oleh makhluk parasit. Hospes atau inang dari Askariasis adalah manusia. Di manusia, larva Ascaris akan berkembang menjadi dewasa dan menagdakan kopulasi serta akhirnya bertelur. Penyakit ini sifatnya kosmopolit, terdapat hampir di seluruh dunia. Prevalensi askariasis sekitar 70-80%.

Etiologi
Cacing jantan berukuran sekitar 10-30 cm, sedangkan betina sekitar 22-35 cm. Pada cacing jantan ditemukan spikula atau bagian seperti untaian rambut di ujung ekornya (posterior). Pada cacing betina, pada sepertiga depan terdapat bagian yang disebut cincin atau gelang kopulasi.

Cacing dewasa hidup pada usus manusia. Seekor cacing betina dapat bertelur hingga sekitar 200.000 telur per harinya. Telur yang telah dibuahi berukuran 60 x 45 mikron. Sedangkan telur yang tak dibuahi, bentuknya lebih besar sekitar 90 x 40 mikron. Telur yang telah dibuahi inilah yang dapat menginfeksi manusia.

Siklus
Pada tinja penderita askariasis yang membuang air tidak pada tempatnya dapat mengandung telur askariasis yang telah dubuahi. Telur ini akan matang dalam waktu 21 hari. bila terdapat orang lain yang memegang tanah yang telah tercemar telur Ascaris dan tidak mencuci tangannya, kemudian tanpa sengaja makan dan menelan telur Ascaris.

Telur akan masuk ke saluran pencernaan dan telur akan menjadi larva pada usus. Larva akan menembus usus dan masuk ke pembuluh darah. Ia akan beredar mengikuti sistem peredaran, yakni hati, jantung dan kemudian di paru-paru.

Pada paru-paru, cacing akan merusak alveolus, masuk ke bronkiolus, bronkus, trakea, kemudian di laring. Ia akan tertelan kembali masuk ke saluran cerna. Setibanya di usus, larva akan menjadi cacing dewasa. Kodokoala

Cacing akan menetap di usus dan kemudian berkopulasi dan bertelur. Telur ini pada akhirnya akan keluar kembali bersama tinja. Siklus pun akan terulang kembali bila penderita baru ini membuang tinjanya tidak pada tempatnya.

Diagnosis
Diagnosis askariasis dilakukan dengan menemukan telur pada tinja pasien atau ditemukan cacing dewasa pada anus, hidung, atau mulut.

Gejala Klinis
Gejala klinis akan ditunjukkan pada stadium larva maupun dewasa.

Pada stadium larva, Ascaris dapat menyebabkan gejala ringan di hati dan di paru-paru akan menyebabkan sindrom Loeffler. Sindrom Loeffler merupakan kumpulan tanda seperti demam, sesak nafas, eosinofilia, dan pada foto Roentgen thoraks terlihat infiltrat yang akan hilang selama 3 minggu.

Pada stadium dewasa, di usus cacing akan menyebabkan gejala khas saluran cerna seperti tidak nafsu makan, muntah-muntah, diare, konstipasi, dan mual. Bila cacing masuk ke saluran empedu makan dapat menyebabkan kolik atau ikterus. Bila cacing dewasa kemudian masuk menembus peritoneum badan atau abdomen maka dapat menyebabkan akut abdomen.

Pengobatan
Pengobatan askariasis dapat digunakan obat-obat sepreti pirantel pamoat, mebendazol, albendazol, piperasin.

Pencegahan
Di Indonesia, prevalensi askariasis tinggi, terutama pada anak-anak. Penyakit ini dapat dicegah dengan menjaga kebersihan diri dan lingkungan yang baik. Pemakaian jamban keluarga dapat memutus rantai siklus hidup Ascaris lumbricoides ini.

Sumber "

Kodokoala: Unik

5

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions