Selasa, 11 Desember 2012

Thaha Husain Dan Hasan Al-banna

Blog info-info menarik
// via fulltextrssfeed.com
Thaha Husain Dan Hasan Al-banna
Dec 11th 2012, 13:35

[imagetag]

Thaha Husain menulis buku berjudul Mustaqbalu ats-Tsaqafah Fi

Misr yang menimbulkan kehebohan di Mesir. Sebagian orang memuji

dan sebagian lain mencacinya.

Hasan Al-Banna-Mursyid Amm Al-Ikhwan Al-Muslimun-diundang untuk memberikan tanggapan terhadap buku tersebut. Lima hari sebelum acara, Al-Banna mulai membaca buku yang akan dibedah tersebut di kereta setiap pulang pergi ke sekolah. Pada hari yang telah ditentukan, ia berangkat menuju kantor Syubbanul Muslimin. Ternyata kantor telah dipenuhi para ahli ilmu,

sastrawan, dan tokoh pendidikan.Hasan Al-Banna kemudian naik mimbar dan mengawali pemaparannya dengan memuji Allah SWT dan membaca shalawat untuk Rasulullah SAW. Setelah itu beliau mengkritik buku dengan ungkapanungkapan yang terdapat dalam buku itu sendiri. Al-Banna mengungkap beberapa alinea buku dan menunjukkan nomor halamannya. Sementara para hadirin terkagum pada kuatnya hapalan dan kecerdasannya. Pada acara penutupan, Sekretaris Jenderal Syubbanul Muslimin memberi kabar kepada Hasan Al-Banna, bahwa Thaha Husain ikut menghadiri pertemuan di tempat tersembunyi. Pada hari berikutnya, Thaha Husain meminta bertemu Hasan Al-Banna dan ia menyanggupi. Maka terjadilah perbincangan yang membuat Thaha Husain terkagum pada Hasan Al-Banna. Setelah itu Thaha Husain berkata, "Andai lawanlawanku seperti Hasan, tentu aku menjabat tangan mereka sejak hari pertama. Wahai Ustadz Hasan, saya mendengar kritikanmu dan terkagum padamu. Kritikan seperti ini tidak dimiliki orang lain selain engkau." Pelajaran apa yang dapat kita ambil dari penggalan kisah perjalanan dakwah Hasan Al-Banna di atas?

Kisah di atas paling tidak mengandung hikmah sebagai berikut:

1.Perbedaan pendapat adalah suatu keniscayaan yang akan selalu terjadi sepanjang

zaman ilaa yaumil qiyaamah. Rasa-rasanya tidak pernah dan tak akan pernah

terjadi manusia di muka bumi ini sepakat dalam seluruh urusannya.

2.Langkah pertama terbaik manakala terjadi perbedaan pendapat adalah membuka

dialog yang sehat dan sopan, dengan didasari niat mencari pendapat yang lebih

dekat kepada kebenaran.

3.Tokoh dan pemimpin umat hendaknya mampu memberikan teladan kepada umat

untuk bersikap dewasa dalam menghadapi perbedaan. Mereka yang berbeda

pendapat seharusnya berupaya saling memahami sudut pandang dan landasan

berfikirnya masing-masing, dengan begitu diharapkan substansi permasalahan

dapat diketahui dengan jelas. Dengan kata lain pihak pro dan kontra hendaknya

dapat saling mengenal dan memahami argumentasi masing-masing. Bukankah

seringkali terjadi kekacauan dan keributan serta debat kusir yang berkepanjangan

tanpa konklusi, disebabkan masing-masing pihak belum memahami dan atau tidak

berusaha memahami argumentasi "lawan"?

4.Tokoh dan pemimpin umat hendaknya selalu memelihara dan meningkatkan

integritas dan kapabilitas dirinya.

5.Perbedaan pendapat "sekeras" apa pun sebaiknya tidak membuat seseorang

kehilangan akal sehat dan kedewasaannya. Dialog jangan sampai dianggap

sebagai ajang pamer otot-otot intelektual yang hasil akhirnya adalah menang atau

kalah.

6.Pihak-pihak yang berbeda pendapat harus jujur kepada kebenaran, seraya

menghormati kepada "lawan" yang berbeda pendapat dengannya. Mereka adalah

tawanan kebenaran, dimanapun kebenaran berada maka ia tunduk kepadanya.

Wallahu a"lam bishawab

Sumber

635621


Postingan menarik lainnya:

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions