Kamis, 27 Desember 2012

Aneh! Seorang Ibu Alergi Sama Bayinya Sendiri

DUNIA INFORMASI
thumbnail Aneh! Seorang Ibu Alergi Sama Bayinya Sendiri
Dec 27th 2012, 15:51


London : Seorang ibu muda tersiksa ketika hamil karena seluruh tubuhnya melepuh gara-gara alergi dengan bayinya sendiri. Kulit Zuleika Closs, 26 tahun, mengalami ruam, gatal seperti membakar tubuhnya saat kehamilannya berusia 20 minggu.


"Pada awalnya, rasanya seperti ada sesuatu yang merangkak di kulit saya tapi kemudian menjadi tak tertahankan. Lepuh tampak seperti ruam jelatang pada awalnya, tetapi menyebar sangat cepat dan menjadi gelap dan merah," kata ibu dari dari Falmouth, Cornwall, seperti dikutip Dailymail, Jumat (14/12/2012).

"Kakiku yang terburuk. Saya menggaruk begitu keras sehingga potongan kulit terus jatuh. Itu mengelupas seperti kulit jeruk".

Dokter memberikan antibiotik dan obat salep. Tapi setelah meminum dan menggunakan lotion calamine tidak meringankan gatalnya. Setelah itu dokter salah mendiagnosa kalau ibu ini mengalami kudis parah dan memberikan insektisida untuk digunakan.

Ia juga diberitahu untuk mencuci semua pakaiannya dengan air panas dan menaruh sepatunya di lemari es, tetapi tidak berhasil.

"Saya sangat gatal, saya menggaruk diri sendiri ketika tidur. Saya lelah dan tidak bisa mengatasi".

"Saya ingat berdiri di ruang tunggu dokter dengan banjir air mata berharap seseorang akan membantu saya. Saya merasa seperti ingin membenturkan kepala saya ke dinding bata karena tidak ada yang berhasil".

"Saya pikir mereka akan berpikir kalau saya seorang wanita yang hamil hormonal tapi itu benar-benar yang buruk".

Pasangan dari Nathan Darbyshire, 23, ini merupakan seorang pekerja perawatan. Akibat kondisinya, ia kehilangan shift di tempat kerjanya karena tidak ingin menularkan kudis kepada para kolega dan pasien.

Pada 38 minggu, Closs masih bekerja tetapi dia takut untuk memegang bayi karena dia pikir dia akan menularkan ruam ke bayi itu.

"Kontak kulit benar-benar penting dengan bayi yang baru lahir tapi saya tidak ingin memegangnya".

Setelah Emmanuel lahir, ruam pun mereda tapi kemudian berkobar lagi. Kali ini, dia bertemu dokter yang mengatakan kalau Closs menderita gangguan autoimun kehamilan serta menyalahkan ia menggunakan dosis antihistamines yang tinggi.

"Saya tidak bisa percaya apa yang ia mengatakan. Saya alergi terhadap kehamilan saya. Itu terdengar aneh".

Setelah empat bulan, ruam itu memudar namun ia masih takut. Closs ternyata mengalami pemfigoid gestationis, yang disebabkan oleh jaringan plasenta yang memasuki aliran darah ibu dan bereaksi dengan sistem kekebalan tubuhnya.

Pemfigoid gestationis mempengaruhi satu dalam dua juta kehamilan di seluruh dunia dan cenderung lebih parah pada kehamilan berikutnya.

"Kami akan menikah pada Mei namun saya harus menemukan gaun yang menutupi bekas luka-lukaku. Berpikir memiliki bayi lagi di masa depan menakutkanku".

"Tubuh saya sudah berantakan tapi saya ingin sekali Emmanuel memiliki saudara dan saudari yang tumbuh dengannya".

Menurut Nina Goad, dari Asosiasi Dermatologi Inggris, pemfigoid gestationis merupakan gangguan langka yang terjadi pada wanita hamil setelah 13 minggu kehamilan.

Ruam karena gatal berkembang menjadi lepuh. Ini berarti sistem kekebalan tubuh ibu mulai bereaksi terhadap kulitnya sendiri sehingga menyebabkannya menjadi lepuh.

"Kami berpikir, beberapa jaringan plasenta memasuki aliran darah ibu dan menyebabkan sistem kekebalan tubuhnya menjadi aktif dan bereaksi dengan kulitnya, menyebabkan lecet. Hormon wanita, khususnya estrogen, diperkirakan memperburuk reaksi".

Ini mungkin alasan kasus langka itu sering terjadi selama kehamilan karena saat itu kadar estrogen meningkat. Biasanya berulang pada kehamilan berikutnya.

Sayangnya PG tidak dapat disembuhkan, tetapi bisa ditekan dengan pengobatan. Gejala sering membaik menjelang akhir kehamilan, tetapi 80% wanita akan mengalami ruam waktu melahirkan.

Dalam kebanyakan kasus, gejala selesai setelah berhari-hari atau minggu melahirkan, namun pada beberapa wanita penyakit ini bisa tetap aktif selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun dan mungkin memerlukan perawatan yang terus menerus.

trus ngerawatnya gimana kalo alergi sama bayinya? kasihann

http://forum.detik.com

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions